Jakarta - Menkum HAM Amir Syamsuddin menyindir protokoler di Indonesia terkenal bertele-tele dan mewah. Ternyata, di luar negeri hal ini pun tidak dikenal. Bahkan untuk menyambut pejabat negara asing sekalipun, sambutan protokoler nyaris tidak ada. Terkesan dicuekin.
Pengalaman ini diceritakan hakim konstitusi Akil Mochtar."Saat itu saya masih jadi Wakil Komisi III DPR," kata Akil saat berbincang dengan detikcom, Rabu, (7/12/2012).
Saat itu, dia bersama Jaksa Agung dan Ketua Mahkamah Agung (MA) berkunjung ke Hungaria pada 2004 untuk kepentingan kerjasama bilateral. Pagi hari pukul 08.00 waktu setempat mereka dijadwalkan bertemu Ketua MA setempat. Gedung itu berada di tepi jalan, hanya terpisah trotoar dari jalan raya.
"Kami sampai di depan gedung 15 menit lebih awal dari janji. Pintu masih
terkunci," kisah Akil berkisah.
Setelah diketok cukup keras karena pintu cukup tebal, sebuah lobang kecil
di pintu dibuka dari dalam. Lantas seorang penjaga teriak dari dalam
menanyakan maksud kedatangan mereka. Usai mengutarakan maksud tujuan, lobang kecil tersebut ditutup lagi oleh penjaga dengan menyuruh menunggu di luar.
"Ya sudah mau apa lagi. 15 menit, kami menunggu di tepi jalan sambil
berdiri. Pejabat negara Indonesia menunggu di tepi jalan. Di trotoar loh,"
cerita Akil sambil tertawa.
Tepat pukul 08.00 waktu setempat, pintu gerbang dibuka. Lantas mereka
dipersilahkan masuk ke lantai atas, tempat ruang Ketua MA berada. "Naik ke lantai atas pun tidak di dampingi protokoler. Ya sudah kita naik sendiri aja," beber Akil.
Usai bertemu, perbincangan pun di mulai. Selama 4 jam perbincangan tersebut, tak ada air minum disuguhkan apalagi makanan. "Tepat pukul 12.00, Ketua MA mengatakan break untuk makan siang," kenang Akil.
Lantas merekapun berempat jalan kaki dari gedung MA selama 15 menit tanpa pengawalan sama sekali dari pihak protokoler. Keempat orang lembaga pimpinan negara ini jalan kaki bercampur dengan masyarakat umum beberapa blok dari gedung MA. "Dan kita makan siangnya di sebuah cafe yang nuansanya abad pertengahan. Sederhana tapi art. Bukan cafe yang mewah loh," terang
Akil.
Meski seakan dicuekin, tapi Akil menilai penyambutan ala Hungaria tetap perlu dihormati dan diapresiasi. Sebuah penyambutan yang tidak menghilangkan substansi pertemuan. "Bukan masalah sambutannya, tapi kan tidak menghilangkan susbtansi pertemuan," ungkap Akil mengambil hikmah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar